PontianakPos
  • Home
  • Nasional
  • Kabar Pontianak
  • Ekbis
  • Hukrim
  • Politik
No Result
View All Result
PontianakPos
  • Home
  • Nasional
  • Kabar Pontianak
  • Ekbis
  • Hukrim
  • Politik
No Result
View All Result
PontianakPos
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Pandangan Ilmuwan Soal Banjir Besar Terjang Asia Tenggara, Perubahan Iklim Bukan Lagi Sebatas Peringatan

admin by admin
04/12/2025
in Lingkungan
0
Pandangan Ilmuwan Soal Banjir Besar Terjang Asia Tenggara, Perubahan Iklim Bukan Lagi Sebatas Peringatan
74
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Banjir besar melanda Asia Tenggara tahun ini setelah badai dan hujan ekstrem turun tanpa henti, menimbulkan malapetaka di berbagai negara. Peristiwa ini terjadi ketika kawasan belum sepenuhnya siap menghadapi intensitas cuaca yang semakin tidak menentu.

You might also like

HNSI Riau Warning Pemerintah: Jangan Korbankan Ribuan Nelayan Demi Legalisasi Tambang Emas di DAS Kuantan!

Peta Bahaya Gempa Catat 14 Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat, BMKG menegaskan istilah “Menunggu Waktu”

4 Perusahaan Disegel Terkait Dugaan Penyebab Banjir Sumatera, KLH Periksa 8 Perusahaan di DAS Batang Toru

Sedikitnya 1.400 orang meninggal di Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand, sementara lebih dari 1.000 orang masih hilang akibat banjir dan tanah longsor. Di Indonesia, sejumlah desa masih terisolasi setelah akses jalan dan jembatan hanyut diterjang banjir, sementara ribuan warga Sri Lanka mengalami krisis air bersih. Pemerintah Thailand turut mengakui respons darurat yang dinilai lambat.

Malaysia juga diguncang salah satu banjir terburuk yang menewaskan tiga orang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Di sisi lain, Vietnam dan Filipina menghadapi rangkaian badai dan banjir besar sepanjang tahun yang telah menelan ratusan korban jiwa.

Para ilmuwan menyebut fenomena ekstrem ini merupakan gambaran nyata dari percepatan krisis iklim. Jemilah Mahmood dari Sunway Centre for Planetary Health menyatakan Asia Tenggara harus bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi lebih buruk pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya.

Organisasi Meteorologi Dunia mencatat kenaikan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer pada 2024 adalah yang tertinggi sepanjang sejarah pengukuran. Hal itu mempercepat perubahan iklim dan memicu cuaca yang lebih ekstrem. Asia kini menghangat hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Benjamin Horton, pakar ilmu bumi dari City University of Hong Kong, menjelaskan suhu laut yang lebih hangat menyediakan energi besar bagi badai, membuatnya lebih kuat dan lebih basah. Perubahan pola angin, arus laut, dan fenomena seperti El Nino turut memperpanjang musim badai.

Kesiapan pemerintah di berbagai negara dinilai belum memadai dalam menghadapi bencana dengan intensitas dan frekuensi setinggi ini. Aslam Perwaiz dari Pusat Kesiapsiagaan Bencana Asia Tenggara menilai banyak negara masih berfokus pada respons, bukan pencegahan, sehingga kewalahan ketika bencana terjadi.

Di Sri Lanka, para peneliti menyoroti bahwa kondisi di wilayah terdampak tak banyak berubah sejak tsunami 2004. Pembangunan yang tidak teratur dan kerusakan ekosistem memperburuk dampak banjir, sementara masyarakat miskin tetap menjadi kelompok yang paling rentan.

Di Indonesia, video kayu gelondongan yang tersapu arus banjir menimbulkan dugaan deforestasi berperan memperparah bencana. Data Global Forest Watch menunjukkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kehilangan lebih dari 19.600 kilometer persegi hutan sejak 2000.

Kerugian ekonomi di kawasan mencapai miliaran dolar. Vietnam memperkirakan kerugian lebih dari US$3 miliar sepanjang tahun ini, Thailand mencatat kerugian ratusan juta dolar, sementara Indonesia memiliki rata-rata kerugian tahunan sebesar US$1,37 miliar akibat bencana.

Negara-negara Asia Tenggara kini berharap pendanaan iklim global dapat membantu memperkuat adaptasi. Dalam konferensi COP30 di Brasil, negara-negara maju berjanji melipatgandakan pendanaan adaptasi dan menyediakan US$1,3 triliun per tahun pada 2035, namun realisasinya masih diragukan.

Thomas Houlie dari Climate Analytics mengatakan Asia Tenggara berada di titik krusial dalam menghadapi krisis iklim. Kawasan ini mulai meningkatkan energi terbarukan, namun masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Ia menegaskan bahwa bencana yang terjadi saat ini adalah peringatan nyata dari dampak pemanasan global.***

Sumber: The Japan News
Share30Tweet19
admin

admin

Recommended For You

HNSI Riau Warning Pemerintah: Jangan Korbankan Ribuan Nelayan Demi Legalisasi Tambang Emas di DAS Kuantan!

by admin
23/01/2026
0
HNSI Riau Warning Pemerintah: Jangan Korbankan Ribuan Nelayan Demi Legalisasi Tambang Emas di DAS Kuantan!

KUANSING - Rencana penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan memicu reaksi dari berbagai pihak. Setelah WALHI, kini giliran Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Nelayan...

Read more

Peta Bahaya Gempa Catat 14 Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat, BMKG menegaskan istilah “Menunggu Waktu”

by admin
23/12/2025
0
Peta Bahaya Gempa Catat 14 Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat, BMKG menegaskan istilah “Menunggu Waktu”

Pemerintah memperbarui Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia pada 2024. Dalam rilis terbaru menyebutkan jumlah zona megathrust di Indonesia bertambah menjadi 14 titik, naik dari 13 zona pada...

Read more

4 Perusahaan Disegel Terkait Dugaan Penyebab Banjir Sumatera, KLH Periksa 8 Perusahaan di DAS Batang Toru

by admin
09/12/2025
0
4 Perusahaan Disegel Terkait Dugaan Penyebab Banjir Sumatera, KLH Periksa 8 Perusahaan di DAS Batang Toru

Kementerian Lingkungan Hidup (LH) RI menyegel empat perusahaan yang diduga berkontribusi terhadap bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Wakil Menteri LH, Diaz Hendropriyono, mengatakan penyegelan dilakukan setelah tim...

Read more

KLH Pastikan Kayu Gelondongan Banjir Sumut Hasil Penebangan, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan Sementara

by admin
08/12/2025
0
KLH Pastikan Kayu Gelondongan Banjir Sumut Hasil Penebangan, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan Sementara

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memastikan tumpukan kayu gelondongan yang terseret banjir bandang di Sumatera Utara bukan berasal dari proses alam, melainkan dari aktivitas penebangan. Kepastian itu disampaikan Menteri...

Read more

BMKG Catat 143 Titik Panas Terpantau di Kalimantan, Tertinggi Nasional

by admin
28/07/2025
0
BMKG Catat 143 Titik Panas Terpantau di Kalimantan, Tertinggi Nasional

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Kalimantan sebagai wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Indonesia pada 27 Juli 2025. Tercatat ada 143 hotspot yang terpantau...

Read more
Next Post
Harga CPO Kembali Melemah Akibat Ekspektasi Kenaikan Stok

Harga CPO Kembali Melemah Akibat Ekspektasi Kenaikan Stok

Related News

Harga CPO Melemah, Dipicu Permintaan Lesu dan Produksi yang Meningkat

Harga CPO Diprediksi Menguat Pekan Ini

23/06/2025
Nutrisi Penting untuk Kuku Agar Kuat, Sehat, dan Tidak Mudah Patah

Nutrisi Penting untuk Kuku Agar Kuat, Sehat, dan Tidak Mudah Patah

03/12/2025
Mirip Close Friends Instagram, Twitter Mulai Kembangkan Fitur Flock

Mirip Close Friends Instagram, Twitter Mulai Kembangkan Fitur Flock

26/01/2022

Browse by Category

  • Advertorial
  • Berita
  • Berita Nasional
  • Berita Video
  • berita-pilihan
  • Budaya
  • Edukasi
  • Ekbis
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Gaya Hidup
  • Headline
  • Hiburan
  • Hukrim
  • Hukum
  • Hukum Kriminal
  • Insight
  • Internasional
  • Islampedia
  • Kabar Ambon
  • Kabar Pontianak
  • Kesehatan
  • Kolom
  • Kuliner
  • Lifestyle
  • Lingkungan
  • Matra
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Politik
  • property
  • Regional
  • Teknologi
  • Teknologi
  • Traveling
  • Travelling
PontianakPos

© 2026 PontianakPos.com.

  • REDAKSI
  • INFO IKLAN
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • DISCLAIMER
  • TERM OF SERVICE
  • KONTAK

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Kabar Pontianak
  • Ekbis
  • Hukrim
  • Politik

© 2026 PontianakPos.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?